Pengaduan anak terlantar: 0800-1500-771 [email protected]

JANGKRIK4D Lembaga Peduli Sosial Anak
Pengaduan 24 jam 0800-1500-771

Beasiswa tahap dua 2026 disalurkan untuk 780 anak

Pencairan dilakukan langsung ke rekening sekolah agar dana benar-benar terpakai untuk biaya pendidikan.

Suasana belajar mengajar di dalam kelas sekolah
Suasana kelas di sekolah mitra. Foto ilustrasi, Wikimedia Commons.

Sebanyak 780 anak menerima beasiswa tahap dua tahun ajaran 2026 pada pertengahan Juli. Dana disalurkan langsung ke rekening sekolah, bukan ke tangan wali, dengan nilai berjenjang menurut tingkat pendidikan.

Rincian penerima adalah 412 anak jenjang sekolah dasar, 248 anak jenjang menengah pertama, dan 120 anak jenjang menengah atas atau kejuruan. Nilai per anak berkisar Rp900.000 sampai Rp2.400.000 per semester, mencakup biaya sekolah, seragam, dan perlengkapan belajar. Total penyaluran tahap ini Rp1,08 miliar.

Mengapa dana tidak diberikan tunai

Keputusan menyalurkan ke rekening sekolah bukan soal ketidakpercayaan kepada keluarga. Ini soal kenyataan bahwa keluarga miskin menghadapi banyak kebutuhan mendesak sekaligus, dan uang tunai yang datang bersamaan dengan tagihan listrik atau biaya berobat hampir selalu terpakai untuk yang paling mendesak hari itu. Menyalurkan ke sekolah memastikan komponen pendidikan aman lebih dulu.

Untuk kebutuhan yang tidak bisa dibayar sekolah, misalnya ongkos transportasi harian, kami menyalurkannya terpisah dalam bentuk tunai bulanan bernilai kecil. Pemisahan ini membuat penelusuran lebih mudah bila ada keluhan.

Seleksi dan pemantauan

Penerima ditetapkan lewat verifikasi dokumen dan kunjungan rumah oleh pekerja sosial. Kriteria utamanya adalah status anak yatim, piatu, yatim piatu, atau berasal dari keluarga dengan penghasilan di bawah garis kemiskinan daerah. Prestasi akademik bukan syarat masuk. Anak yang nilainya rendah justru sering kali yang paling berisiko putus sekolah, dan mengeluarkan mereka dari daftar akan membalik tujuan programnya.

Yang kami pantau setelah pencairan hanya dua hal: anak masih terdaftar aktif, dan kehadirannya tidak jatuh di bawah 80 persen. Bila kehadiran turun, pekerja sosial berkunjung untuk mencari sebabnya, bukan untuk mencabut beasiswa. Sepanjang paruh pertama 2026, dari 31 kasus penurunan kehadiran, 24 di antaranya berakar pada masalah kesehatan atau perpindahan tempat tinggal keluarga, bukan pada keengganan anak bersekolah.

Yang belum tertangani

Pengajuan yang masuk tahun ini berjumlah 1.147, sehingga 367 anak belum terlayani. Mereka masuk daftar tunggu tahap tiga yang dijadwalkan Januari 2027, dengan prioritas pada anak kelas akhir yang menghadapi biaya ujian dan kelulusan. Kami mencantumkan angka ini secara terbuka karena laporan yang hanya memuat capaian, tanpa menyebut yang tidak tercapai, tidak layak disebut laporan.

Kembali ke daftar berita Dukung Program Ini