Pengaduan anak terlantar: 0800-1500-771 [email protected]

JANGKRIK4D Lembaga Peduli Sosial Anak
Pengaduan 24 jam 0800-1500-771

Rumah pengasuhan ketujuh diresmikan di Semarang

Berkapasitas 48 anak, rumah ini melengkapi enam rumah yang sudah beroperasi di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Medan.

Anak-anak dalam kegiatan belajar bersama di sekolah
Kegiatan belajar anak asuh. Foto ilustrasi, Wikimedia Commons.

Rumah pengasuhan ketujuh JANGKRIK4D mulai beroperasi di Semarang pada Juli 2026. Bangunan dua lantai itu berkapasitas 48 anak, dengan enam kamar tidur bersama, ruang belajar, klinik kecil, dan halaman bermain yang cukup luas untuk kegiatan sore.

Semarang dipilih setelah pendataan dua tahun menunjukkan bahwa rujukan dari Jawa Tengah selama ini harus ditampung di rumah Surabaya, kadang berjarak lebih dari sepuluh jam perjalanan dari keluarga asal anak. Jarak itu bukan persoalan logistik semata. Semakin jauh anak dari kerabatnya, semakin kecil peluang reunifikasi berhasil, dan reunifikasi adalah tujuan akhir dari hampir semua penempatan yang kami lakukan.

Bukan sekadar menambah tempat tidur

Kami membangun rumah ini dengan pembatasan yang mungkin terdengar aneh untuk sebuah lembaga sosial: kapasitasnya sengaja tidak dibuat lebih besar. Kapasitas 48 anak adalah batas praktis agar rasio pengasuh terhadap anak tetap berada pada 1 banding 6 untuk usia sekolah dasar dan 1 banding 8 untuk usia menengah. Melewati angka itu, pengasuhan berubah menjadi pengelolaan massa, dan anak berhenti dikenali sebagai individu.

Delapan pengasuh tetap sudah menempati rumah sejak tiga bulan sebelum peresmian. Mereka menjalani orientasi kebijakan perlindungan anak, pelatihan pertolongan pertama, dan pendampingan langsung di rumah Surabaya sebelum ditempatkan. Semua pengasuh menyerahkan Surat Keterangan Catatan Kepolisian, tanpa pengecualian dan tanpa masa tenggang.

Rumah yang baik diukur dari seberapa cepat anak berani mengeluh, bukan dari seberapa rapi bangunannya. Koordinator pengasuhan JANGKRIK4D

Anak pertama masuk pekan berikutnya

Sebelas anak pertama menempati rumah pada pekan pertama Agustus 2026, seluruhnya rujukan dari dinas sosial kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Tujuh di antaranya masih memiliki kerabat yang dapat dihubungi, sehingga sejak hari pertama pekerja sosial kami membuka jalur komunikasi untuk kemungkinan reunifikasi. Empat anak sisanya belum teridentifikasi keluarganya dan masuk jalur penelusuran keluarga bersama kepolisian setempat.

Semua anak yang masuk langsung didaftarkan ke sekolah negeri terdekat. Kami tidak menyelenggarakan sekolah sendiri di dalam rumah pengasuhan. Anak yang bersekolah di luar bertemu teman sebaya yang bukan anak asuh, dan itu penting untuk mencegah rasa terasing yang sering muncul pada anak yang tumbuh sepenuhnya di dalam lembaga.

Biaya dan sumber dana

Total biaya pembangunan dan penyiapan operasional tahun pertama tercatat Rp4,7 miliar. Sebanyak 62 persen berasal dari donasi publik yang terkumpul sepanjang 2024 dan 2025, 24 persen dari hibah lembaga filantropi, dan sisanya dari kerja sama pemerintah daerah dalam bentuk penyediaan lahan. Rinciannya akan muncul pada laporan keuangan 2026 yang terbit Juni tahun depan, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, dapat diunduh siapa saja tanpa permintaan khusus.

Rumah kedelapan belum masuk rencana. Kami lebih dahulu ingin memastikan bahwa tujuh rumah yang ada berjalan pada standar yang sama, termasuk pada indikator yang paling sulit dinaikkan: berapa banyak anak yang berhasil kembali ke keluarganya sendiri.

Kembali ke daftar berita Dukung Program Ini