Sepanjang 2025, sebanyak 42 anak asuh kembali tinggal bersama keluarga atau kerabatnya. Ini angka reunifikasi tertinggi sejak JANGKRIK4D berdiri pada 2011, dan menjadi ukuran keberhasilan yang paling kami pegang.
Bagi lembaga pengasuhan, angka yang naik biasanya berarti kabar buruk: makin banyak anak yang perlu ditampung. Angka reunifikasi berjalan ke arah sebaliknya. Setiap anak yang keluar dari rumah pengasuhan dan kembali ke keluarganya sendiri adalah tanda bahwa persoalan yang membuatnya masuk sudah tertangani.
Bagaimana prosesnya berjalan
- Penelusuran keluarga. Dimulai sejak hari pertama anak masuk, bukan setelah bertahun-tahun. Pekerja sosial mencari kerabat yang masih dapat dihubungi, termasuk paman, bibi, dan kakek nenek.
- Penilaian kelayakan. Kunjungan rumah untuk menilai kondisi tempat tinggal, penghasilan, dan yang paling penting, apakah alasan anak dahulu ditelantarkan sudah berubah.
- Pertemuan bertahap. Anak dan keluarga dipertemukan beberapa kali di lingkungan netral sebelum ada keputusan apa pun. Anak berhak menolak, dan penolakannya dihormati.
- Kepulangan dengan dukungan. Keluarga penerima masuk program santunan dan, bila memenuhi syarat, program pemberdayaan agar penghasilannya naik.
- Pemantauan satu tahun. Kunjungan pada bulan pertama, ketiga, keenam, dan kedua belas. Bila kondisi memburuk, anak dapat kembali ke pengasuhan tanpa proses panjang.
Empat anak yang kembali ke pengasuhan
Dari 42 anak, empat kembali ke rumah pengasuhan sebelum bulan keenam. Dua karena wali jatuh sakit dan tidak ada kerabat lain yang sanggup, satu karena keluarga pindah kota tanpa kejelasan, dan satu karena ditemukan tanda kekerasan yang terulang. Kasus terakhir menjadi bahan evaluasi menyeluruh atas prosedur penilaian kelayakan kami, dan sejak Maret 2026 penilaian wajib melibatkan wawancara terpisah dengan anak tanpa kehadiran wali.
Kami menuliskan keempat kasus ini karena reunifikasi yang gagal adalah bagian dari pekerjaan ini, dan menyembunyikannya hanya akan membuat lembaga lain mengulangi kesalahan yang sama.
Yang paling menentukan
Dari penelusuran kami, faktor tunggal yang paling menentukan keberhasilan reunifikasi bukan besarnya bantuan yang diberikan, melainkan apakah penghasilan keluarga naik dalam enam bulan pertama. Itulah sebabnya program pemberdayaan keluarga dan program pengasuhan dijalankan sebagai satu rangkaian, bukan dua program terpisah.